Minggu, 08 Oktober 2017

MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN "MODEL DAN METODE MENGAJAR; STRATEGI DAN TAHAP MENGAJAR"





                                                           
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
“ Model Dan Metode Mengajar, Strategi DanTahap Mengajar ”
DOSEN PENGAMPU: Saimun, M.SI
OLEH
NAMA                                                           NIM
          1. MIRNA SAHARA                                      160103070


KELAS : 2.C
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN TADRIS MATEMATIKA
UIN MATARAM
2017


1.      MODEL DAN METODE MENGAJAR

A.    Model  Pokok Mengajar
Model-model mengajar (teaching models)  adalah blue print mengajar  yang  direkayasa  sedemikian rupa untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu pengajaran. Cetak biru (blue print) ini lazimnya dijadikan pedoman perencanaan dan pelaksanaan pengajaran serta evaluasi belajar.[1] Dalam sebuah model mengajar biasanya terdapat tahapan-tahapan atau langkah-langkah (syntax) yang relatif tetap dan pasti untuk menyajikan materi pelajaran secara berurutan. Oleh karena itu, sebuah model mengajar dapat dianggap sebagai teori mini yang bersifat mekanis dalam arti berjalan secara tetap seperti mesin.
Kumpulan atau set model mengajar yang dianggap komprehensif, menurut tardif (1989) adalah set model yang dikembangkan oleh Bruce Joyce dan Marsha Weil dengan kategorisasi sebagai berikut: 1.) model information processing; 2.) model personal; 3.) model social; 4.) model behavioral.
Model Information Processing (Tahapan Pengelolahan Informasi)
Informastion Processing adalah sebuah istilah kunci dalam psikologi kognitif yang akhir-akhir ini semakin mendominasi sebagian besar upaya riset dan pembahasan psikologi pendidikan. Kata information processing sebenarnya dipinjam dari peristilahan komputer untuk menjelaskan aktivitas mental ( dalam hal ini mental siswa) ketika mengoperasikan pengetahuan dan mengolah informasi yang diekstraksikan dari peristiwa-peistiwa yang ada dilingkungan sekitarnya, seperti suara atau kata, gerakan benda, gambar dan sebagainya.
Model Peningkatan Kapasitas Berfikir
Di antara model-model mengajar yang termasuk kategori informasi processing adalah Model Peningkatan Kapasitas Berfikir yang diilhami oleh metode klinis ciptan Jean Piaget (1896 - 1980), seorang ahli psikologi anak yang banyak menekuni perkembangan kognitifnya. Penerapan Model Peningkatan Kapasitas Berfikir diarahkan sebagai pengembangan-pengembangan sebagai berikut.
1.      Daya cipta akal siswa
2.      Berfikir Kritis Siswa[2]
3.      Penilaian mandiri siswa/dan juga pengembangan.
4.      Sosio- emosional siswa (perasaan kemasyarakatan) sebagai salah satu fenomena ranah rasa siswa.
Di negara-negara maju, model mengajar Piaget  tersebut dirancang untuk siswa sampai usia 16 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan penggunaan model ini untuk siswa-siswa yang lebih tua, asal guru pemakaiannya berkualitas lebih baik. Mengapa demikian? Karena, siswa yang berusia di atas 16 tahun dalam perspektif psikologi kognitif memerlukan.
Situasi yang menampilkan teka-teki masalah yang mendalam pada pelaksanaan langkah pertama model;
Guru yang lebih piawai dalam teknik-teknik probing (penyelidikan atau pemeriksaan) dan counter sggestion (saran tandingan) pada pelaksanaan selanjutnya.
Langkah-langkah (syntax)
·         Pertama, langkah konfrontasi. Pada tahap pertama pproses mengajar-belajar guru perlu mengkonfrontasikan atau menghadapkan para siswa pada situasi yang menentang, penuh teka-teki, dan terkadang tak masuk akal (Dahlan , 1990). Caranya ialah dengan mengajukan masalah yang pelik (tapi relevan dengan misteri pelajaran) dan masih setara dengan perkembangan ranah cipta siswa.
Pelemparan masalah pada umumnya dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan atau pemberian tugas secara singkat, jelas, menarik minat berfikir dan tidak menimbulkan jawaban yang hanya berbunyi “ya” atau “tidak”. Sebagai contoh, perhatikanlah alternatif cara pelemparan masalah pelik mengenai hikmah ibadah shalat yang dilakukan seorang guru agama SMA, sebagai berikut.
1.      Mengapa ada orang yang rajin shalat, tetapi akhlaknya tercela? (syah, 1987)
2.      Diskusikanlah dengan teman-temanmu, mengapa ada orang yang rajin shalat tetapi akhlaknya tercela!
Untuk menjamin pemerataan tugas yang menantang itu, para siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang maksimal terdiri atas lima orang. Sedangkan masalah yang dilemparkan kepada kelompok-kelompok ini bisa dibuat sama atau berbeda, dengan catatan:[3]
Setiap pertanyaan atau tugas memiliki tingkat kerumitan yang seimbang.
Setiap pertanyaan atau tugas memiliki relevansi dengan materi pelajaran.
·         kedua, langkah inquiry. Langkah kedua ini  (inquiry) merupakan proses, penggunaan intelek siswa dalam memperoleh pengetahuan dengan cara menemukan dan mengorganisasikan konsep-konsep kedalam sebuah tatanan yang menurut siswa tersebut penting (Barlow 1985). Selama proses inquiry guru perlu memberi peluang kepada para siswa baik sebagai individu maupun kelompok supaya lebih banyak mengembangkan kreativitas sendiri dalam memecahkan masalah.
Tugas guru dalam langkah kedua ini  menggali dan menilai respons para siswa dalam cara probing, umpamanya dengan cara bertanya untuk meyakinkan benar-salahnya sesuatu yang telah dikemukakan para siswa. Kemudian, guru juga dapat melakukan counter suggestion dengan menanyakan alasan-alasan mengapa siswa menjawab begini atau begitu. Semua respons siswa baik yang sama maupun yang berbeda perlu ditelaah oleh guru secara seimbang, lalu mereka diberi sarana perbaikan dan penyempurnaan jawaban atau hasil tugas yang telah mereka laksanakan.
Langkah inkuiri  dalam proses mengajar termasuk pendekatan yang modern dan dapat menghapus tuduhan bahwa lembaga pendidikan (sekolah) adalah pencipta kultur “penurut dan pendiam”. Oleh karena itu pertanyaan-pertanyaan kreatif dan inovatif seperti  “mengapa” ?,  “bagaimana kalau....?” yang diajukan sebagai counter suggestion seyogianya dibiasakan oleh guru dan ditularkan kepada para siswanya.
·         Ketiga, langkah transfer. Pada tahap terakhir ini diharapkan kemampuan-kemampuan ranah cipta dan rasa ( sosio-emosional) yang sudah dimiliki para siswa dapat mempermudah penyelesaian tugas-tugas pembelajaran selanjutnya. Selain itu, kiat kognitif siswa dalam memecahkan masalah diharapkan dapat memberi dampak positif, (pisitive transfer effect) atau dapat digunakan lagi untuk memecahkan masalah-masalah baru ( Lawson, 1991).
Untuk memastikan apakah transfer ini terjadi dalam diri siswa, maka gurur dianjurkan melemparkan masalah baruyang juga musykil dan menantang siswa untuk berfikir. Jika siswa telah mencoba memechkan masalah baru tersebut,guru perlu melakukancounter-suggestion lagi dengan meminta argumen-argumen dan menggali pemikiran yang lebih dalam mengenai masalah tadi
Tujuan langkah terakhir ini, seperti yang telah di singgung di atas, adalah agar siswa dapat mentransfer dalam arti mengaplikasikan kemampuan ranh ciptanya untuk memecahkan masalah-masalah dan menyelesaikan[4]  tugas-tugas yang lain dihadapi, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang.[5]
B. Model Personal (pengembangan Pribadi)
Rumpun model personal pada umumnya berorientasi pada pengembangan pribadi siswa dengan lebih banyak perhatikan kehidupan ranah rasa, terutama fungsi emosionalnya. Bantuan rumpun model personal lebih ditekankan pada pembentukan dan pengorganisasian realitas kehidupan lingkungan  dan kehidupan yang khas/unik . diharapkan, dengan menggunakan model proses belajar mengajar dapat menolong siswa dalam mengembangkan sendiri hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Siswa sebagai pesert didik dapat juga menyadari dirinya sendiri sebagai seorang “pribadi” yang berkecakapan (capable) cukup untuk berinteraksi dengan pihak luar sehingga mengahasilkan pola hubungan interpersonal yang kondusif (mendatangkan hasil/bermnfaat).
Model Nondirektif
Teknik yang lazim digunakan untuk mengimplementasikan model nondirektif adalah teknik wawancara (nondirective interview). Dalam wawancara ini siswa dibebaskan menjawab dan mengekspresikan ide dan perasaan kepada guru pembimbing  sehubungan dengan masalah yang yang sedang dialami. Sebaliknya, guru yang berfungsi sebagai pembimbing sangat dianjurkan untuk bersikap empatik, dalam arti menunjukkan respons ranah cipta dan rasa yang penuh pengertian terhadap emosi dan perasaan siswa (reber, 1988).
Langkah-langkh model nondirektif, menurut Carl Rogers yng pendapatnya dikutip Dahlan (1990), terdiri atas lima fase atau tahapan kegiatan sebagaimana terurai berikut ini.
·         Petama, menetukan situasi yang membantu. Tahapan ini dilakukan pada wawancara awal. Guru pada tahapan ini hendaknya pandai-pandai menyusun daftar pertanyaan dan pernyataan yang membuka jalan bagi siswa klien untuk mengekspresikan secara bebas hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah yang dihadapi. Lalu guru menawarkan pembahasan masalah lebih lanjut dan juga prosedur pertemuan berikutnya. 
·         Kedua, mendorong atau memotivasi siswa klien untuk mengekspresikan segala perasaan yang ada, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif.
·         Ketiga, mengembangkan insight (tilikan). Dalam tahapan ini siswa klien diharapkan dapat menampakkan personal insight dalam arti mengerti dan menyadari sendiri tentang arti, sebab, dan akibat perilakunya pada masa lalu yang bermasalah itu.
·         Keempat, memotivasi siswa klien sambil membantu membuat keputusan tentang jenis masalah dan membuat rencana pemecahan masalah tersebut.
·         Kelima, memotivai siswa klien untuk mengambil keputusan mengenai jenis masalah dan tindakan-tindakan positif (dalam arti relevan dan signifikan). Tindakan-tindakan ini harus dilaksanakan  secara berangsur-angsur sesuai dengan elemen-elemen masalah yang dihadapi.
Perlu dikemukakan pula bahwa langkah-langkah dalam model nondirektif diatas dapat dilaksnakan dalam sekali atau beberapa kali pertemuan wawancara dengan siswa klien.[6]

C.  Model Sosial (Hubungan Bermasyarakat)
Model sosial adalah model mengajar yang menitik beratkan pada proses interaksi antarindividu yang terjadi dalam kelompok individu tersebut. Oleh karenanya, rumpun model ini lazim juga disebut sebagai interactive model (model yang bersifat hubungan antar-individu). Salah satu model yang mengutamakan interaksi antara siswa dalam situasi demokrasi itu ialah model mengajar role playing (bermain peran).
Model Role Playing (Bermain Peran)
Pada prinsipya, model mengajar bermain pean merupakan upaya pemecahan masalah khususnya yang bertalian dengan kehidupan sosial melalui peragaan tindakan.
Langkah-langkah
·         Pertama, memotivasi kelompok. Dalam merangsang minat siswa terhadap
Kegiatan bermain peran, guru perlu menawarkan masalah-masalah yang baik. Sebagai contoh perhatikanlah uraian seorang guru agama mengenai bahaya minuman keras yang telah menimbulkan kerusakan antar-remaja termasuk Badu, seorang pelajar SMA tempat guru itu megajar sekarang. Dikisahkan Bahwa:
Badu pada mulanya adalah seorang anak yang baik dan rajin beribadah. Dulu ia inggal bersama ibunya yang telah menjanda di sebuah rumah dekat mesjid setelah ibunya meninggal, ia diajak pindah ke rumah pamannya di sebuah perkampungan kumuh yang sangat jauh dari masjid. Anak-anak muda disekitar kampung itu senang bergerombol di mulut-mulut gang sambil menenggak minuman keras dan berteriak-teriak. Sayangnya, Badu yang baik itupun terpengaruh  lalu bergabung bersama anak-anak brandal tetangganya. Kini Badu harus meringkuk dalam tahanan polisi karena telah melukai seseorang ketika dia mabuk dan terlibat dalam aksi tawuran antarkelompok remaja kampung itu.
Setelah masalah bahaya minimunan keras yanag mencelakakan Badu tadi diidentifikasi secara rinci., selanjutnya guru menetapkan peran-peran tertentu yang dapat dimainkan siswa. Dalam hal ini guru tak perlu terpaku dengan kisah yang telah ia ceritakan. Artinya, bagian-bagian[7]  masalah yang perlu diperankan oleh para siswa bisa sama atau berbeda dari kisah tragis.
·         Kedua, memilih pemeran (pemegang peranan/aktor). Pada tahapan kedua ini, bersama-sama para siswa, guru mendiskusikan gambaran karakter-karakter yang akan diperankan.
·         Ketiga, mempersiapakan pengamat. Dalam melangsungkan model bermain peran dilakukan adanya pengamat yang diambil dari kalangan siswa sendiri. Pengamat ini sebaiknya terlibat dalam cerita yang dimainkan.
·         Keempat, mempersiapkan tahapan peranan. Dalam bermain peran tidak diperlukan adanya dialog-dialog khusus seperti dalam sinetron, sebab apa yang dibutuhkan para siswa aktor itu adalah dorongan untuk berbicara dan bertindak secara kreatif dan spontan. Walaupun begitu, garis besar adegan yaang akan dimainkan perlu disusun secara tertulis.
·         Kelima, pemeranan. Setelah segala sesuatu siap, mulailah para aktor memainkan peran masing-masingsecar spontan sesuai dengan garis-garis besar dan tahapan-tahapan yang telah ditentukan.
·         Keenam, diskusi dan evaluasi. Seusai semua peran dimainkan, diskusi dan evaluasi perlu diadakan. Dalam hal ini guru bersama para aktor dan pengamat hendaknya melakukan pertukaran pikiran dalam rangka menilai bagia-bagian peran mana yang belum sempurna dimainkan.
·         Ketujuh, pengulangan pemeran. Dari diskusi tadi biasanya akan muncul  gagasan baru mengenai alternatif-alternatif lain pemeranan. Alternatif-alternati ini kemudian digunakan untuk memainkan lagi topik cerita bermain peran secara lebih baik.
·         Kedelapan, diskusi dan evaluasi ulang. Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji kembali hasil pemeranan ulang pada langkah ketujuh tadi. Diskusi dan evaluasi pada tahap ini berlangsung seperti diskusi  dan evaluasi pada tahap keenam.
·         Kesembilan, membagi pengalaman dan menarik generalisasi . tahapan terakhir ini dilaksanakan untuk menarik faedah pokok yang terkandung dalam bermain peran, yakni membantu para siswa memperoleh pengalaman-pengalamn baru  yang berharga melalui aktivitas interaksi dengan orang lain.[8]
D. Model Behavioral (Pengembangan Prilaku)
Rumpun model mengajar pengembangan prilaku (Behavioral) direkayasa atas dasar kerangka teori perilaku yang dihubungkan dengan proses belajar dan mengajar. Aktivitas belajar, menurut teori ini,  harus ditujukan pada timbulnya perilaku baru atau perubahannya perilaku siswa kearah yang sejalan dengan harapan.
Dalam rumpun model mengajar behavioral terdapat banyak model mengajar. Salah satu diantaranya yang cukup masyhur ialah model belajar tuntas (mastery learning) .

Model mastery learning (belajar tuntas)
Pengajaran dengan model mastery learning dapat dilaksanakan, baik secara individual maupun secara berkelompok. Dalam hal penyajian individual,  meskipun relatif lebih sulit, guru dapat mengaplikasikannya dalam konteks pengajaran kelas dengan memberi perlakuan-perlakuan khusus terhadap siswa tertentu.
Langkah-langkah
·         Pertama, langkah orientasi. Pada tahap pertama ini guru dianjurkan untuk menyusun framework (kerangka kerja pengajaran). Dalam kerangka pengajaran ini perlu ditetapkan hal-hal sebagai berikut.
1.      Pokok bahasan materi pelajaran
2.      Keterampilan khusus yang harus dikuasai siswa seusai mempelajari materi pelajaran.
3.      Tugas dan tanggung jawab murid dalam melakukan belajar.
·         Kedua, langkah penyajian. Pada tahap kedua guru menjelaskan konsep-konsep yang terdapat dalam pokok bahasan, diselingi dengan peragaan atau demonstrasi keterampilan yang yang berhubungan dengan materi pelajaran. Untuk meningkatkan gairah belajar siswa maka guru, menurut Barlow (1985), sangat dianjurkan menggunakan alat-alat bantu seperti lembar peraga, yang menggambarkan contoh keterampilan yang sedang diajarkan.
·         Ketiga, langkah strukturisasi latihan. Pada paragraf ketiga ini guru memperlihatkan contoh-contoh memperaktikkan keterampilan sesuai dengan urutan yang telah dijelaskan pada waktu perjanjian materi penggunaan alat-alat audio-visual (alat bantu dengar –padang)
·         Keempat, langkah praktik. Pada tahap keempat ini guru seyogyanya memberipeluang yang cukup luas kepada para siswa untuk memperaktikkan keterampilan yang telah mereka lihat dan mereka dengar pada tahap-tahap sebelumnya.
·         Kelima, langkah praktik bebas. Pada tahap terakhir ini guru dapat memberi kebiasaan kepada para siswa untuk memperaktikkan sendiri keteampilan yang telah dikuasai. Praktik keterampilan ini dapat dilakukan para siswa baik dari kelas maupun dari laboraturium atau dirumah sendiri dan tempat-tempat lain yang sesui selama mungkin. Namun, agarnya perlu kita dicatat  bahwa tahap terakhir ini baru dapat diberikan kepada para siswa telah mereka mencapai akurasi (ketepatan) keterampilan minimal 85 persen.[9]
B. Metode Mengajar
Metode mengajar ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pelajaran. Oleh karena itu peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses mengajar dan belajar.[10]
1.)    Metode Ceramah
Metode Ceramah ialah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif.[11]
Keuntungannya:
1.      Guru dapat menguasai seluruh arah kelas
2.      Organisasi kelas adalah sederhana[12]
Kelemahannya:
1.      Membuat siswa pasif
2.      Mengandung unsur paksaan kepada siswa
3.      Menghambat daya kritis siswa (Daradjat, 1985)[13]
Dalil yang menunjukkan tentang metode ceramah yaitu:
Jabir bin abdillah Radhiallahuanhu anhuma menceritakan.
Artinya:  “Bila sedang berkhutbah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerah matanya, suaranya keras dan kemarahan beliau memuncak,  seakan-akan beliau sedang memperingatkan pasukan (dari musuh)”
 [HR. Muslim]
2.)    Metode Diskusi
Metode diskusi ialah metode yang sangat erat hubungannya dengan belajar memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok dan resitasi bersama.
Metode ini  diaplikasikan dalam proses belajar-mengajar untuk:
1.      Mendorong siswa befikir kritis
2.      Mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas
3.      Mendorong siswa menumbang buah pikirannya untuk memecahkan masalah bersama
4.      Mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah bedasarkan pertimbangan yang seksama.

Kelemahan-kelemahannya:
1.      Jalannya diskusi lebih sering didominasi oleh siswa partisipan yang pandai, sehingga mengurangi peluang siswa lain untuk memberi kontribusi.
2.      Jalannya diskusi sering terpengaruh oleh pembicaraan yang menyimpang dari topik pembahasan masalah, sehingga petukaran pikiran menjadi asal-asalan dan bertele-tele.
3.      Diskusi biasanya lebih banyak memboroskan waktu, sehingga tidak sejalan dengan prinsip efisiensi.[14]
3.)    Metode Karyawisata
Metode karya wisata diartikan sebagai suatu strategi belajar mengajar, di mana guru dan muridnya mengunjungi suatu tempat tertentu yang relevan untuk memperoleh sejumlah pengalaman empiris.
Disarankan agar:
a.       Tidak terlalu menyita waktu, kecuali pada saat libur;
b.      Erat kaitannya dengan bidang studi yang dipelajari;
c.       Biayanya tidak terlalu mahal; dan
d.      Persiapan yang memadai[15]
4.)    Metode Demonstrasi
Metode Demonstrasi adalah metodemengajar dengan cara memperagakan barang , kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan[16]
3.      STRATEGI DAN TAHAPAN MENGAJAR
A.    Strategi Mengajar
Startegi mengajar adalah tindakan guru melakukan rencana mengajar. Artinya, usaha guru dalam menggunakan beberapa variabel ( tujuan, bahan, metode dan alat, serta evaluasi) agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan. [17]

1.)    Strategi SPELT ( strategi Program for effective learning /teaching)
Sesuai dengan namanya, Strategi SPELT tadi sengaja direkayasa untuk memperbaiki dan meningkatkan keefektivan belajar dan berfikir siswa, terutama yang menduduki kelas akhir sekolah dasar dan kelas-kelas sekolah menengah. Secara eksplisit tujuan strategi ini ialah membuat siswa menjadi:
1.)    Penuntut ilmu yang aktif sebagai pemikir dan pemecah masalah:
2.)    Penuntut ilmu yang mandiri, memiliki rencana dan strategi sendiri yang efesien dalam mendekati belajar
3.)    Penuntut ilmu yang lebih sadar akan kemampuan pengendalian proses berfikirnya sendiri (metacognitive awareness)[18]
B.     Tahapan Mengajar
Setiap proses mmengajar harus melalui 3 tahapan, yaitu:
1.      Tahap prainstruksional, yaitu persiapan sebelum mengajar dimulai.
2.      Tahap instruksional, yaitu saat-saat mengajar (penyajian materi).
3.      Tahap evaluasi dan tindak lanjutan, yaitu penilaian atas hasil belajar siswa setelah mengikuti pengajaran dan penindaklanjutnya.
Apabila salah satu tahap mengajar ditinggalkan guru misalnya tahap evaluasi, maka guru tersebut tidak dapat dipandang telah melakukan perbuatan mengajar dalam arti yang ideal.[19]

A.    Tahap Prainstruksional
Tahap Prainstruksional  adalah langkah persiapan yang ditempuh pada saat ia memulai proses belajar mengajar.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru atau oleh siswa pada tahan ini:
·         Guru menanyakan kehadiran siswa, dan mencatat siapa yang tidak hadir.
·         Bertanya kepada siswa, sampai dimana pembahasan pelajaran sebelumnya.
·         Mengajukan pertanyaan kepada siswa atau siswa tertentu tentang bahan pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya.
·         Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum dikuasainya dari pengajaran yang telah dilaksanakan sebelumnya.
·         Mengulang kembali bahan pelajaran yang lalu (bahan pelajaran sebelumnya) secara singkat tapi mencakup semua aspek bahan yang telah dibahas sebelumnya.[20]
B.     Tahap instruksional
 Tahap instruksional adalah tahap pengajaran atau tahap inti.  Yakni tahapan memberikan bahan pelajaran yang telah disusun guru sebelumnya.  Secara umum dapat diidentifikasi beberapa kegiatan sebagai berikut:
·         Menjelaskan kepada siswa tujuan pengajaran yang harus dicapai siswa.
·         Menuliskan pokok materi yang akan dibahas hari itu.
·         Membahas pokok materi yang telah dituliskan tadi.
·         Pada setiap pokok materi yang dibahas sebaiknya diberikan contoh-contoh konkret.
·         Penggunaan alat bantu pengajaran untuk memperjelas pembahasan setiap pokok materi sangat diperlukan.
·         Menyimpulkan hasil pembahasan dari semua pokok materi. Kesimpulan ini dibuat oleh guru dan sebaiknya pokok-pokoknya ditulis di papan tulis untuk dicatat siswa.[21]
C.     Tahap evaluasi dan tindak lanjut
Pada tahap ini guru melakukan penilaian keberhasilan belajar siswa yang berlngsung pada tahap intruksioanal. Caranya, ialah dengan mengadakan post test.
Post test merupakan alat pengukuran prestasi belajar siswa sesudah penyajian materi pelajaran.[22]


                                    DAFTAR PUSTAKA

Syah, Muhibbin.2014. psikologi pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sudjana, Nana.2011. Dasar Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo
 Danim, Sudarwan. 2010. Media komunikasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara
Surakhmad, Winarno. 1986. Metodologi Pengajaran Nasional, Bandung: Jemmars
Ichsan, muhammad. 2016. Psikologi Pendidikan Dan Ilmu Mengajar.Banda Aceh: Jurnal Edukasi. Vol. 2, No. 1












[1] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014)  ,hlm.186
[2] Ibid, hlm. 187
[3] Ibid, hlm. 188
[4] Ibid, hlm. 189
[5] Ibid, hlm. 190
[6] Ibid, hlm 191
[7] Ibid, hlm 192-193
[8] Ibid, hlm. 194-195
[9] Ibid, hlm. 195-197
[10] Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses  Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011), hlm.76
[11] Muhammad ichsan, “Psikologi Pendidikan Dan Ilmu Mengajar”.Jurnal Edukasi. Vol. 2 No. 1, Januari 2016, 73
[12] Winarno Surakhmad, Metodologi Pengajaran Nasional, (Bandung: Jemmars, 1986), hlm. 78
[13]  Syah, Op.Cit. hlm. 201
[14] Ichsan, Op.Cit. hlm. 74
[15] Sudarwan Danim, Media komunikasi Pendidikan,(Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm. 38
[16] Syah, Op.Cit. hlm 205
[17] Sudjana, Op.Cit. hlm. 147
[18] Syah, Op.Cit. hlm. 211
[19] Ibid,hlm 213
[20] Sudjana, Op.Cit. 148-149
[21] Ibid, hlm. 149-151
[22] Syah, Op.Cit. 214

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates