PSIKOLOGI PENDIDIKAN
“ Model Dan Metode
Mengajar, Strategi DanTahap Mengajar ”
DOSEN PENGAMPU: Saimun, M.SI
OLEH
NAMA NIM
1. MIRNA SAHARA 160103070
KELAS : 2.C
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN TADRIS MATEMATIKA
UIN MATARAM
2017
1.
MODEL
DAN METODE MENGAJAR
A.
Model Pokok Mengajar
Model-model
mengajar (teaching models) adalah blue
print mengajar yang direkayasa
sedemikian rupa untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu pengajaran. Cetak
biru (blue print) ini lazimnya dijadikan pedoman perencanaan dan pelaksanaan
pengajaran serta evaluasi belajar.[1] Dalam
sebuah model mengajar biasanya terdapat tahapan-tahapan atau langkah-langkah
(syntax) yang relatif tetap dan pasti untuk menyajikan materi pelajaran secara
berurutan. Oleh karena itu, sebuah model mengajar dapat dianggap sebagai teori
mini yang bersifat mekanis dalam arti berjalan secara tetap seperti mesin.
Kumpulan
atau set model mengajar yang dianggap komprehensif, menurut tardif (1989)
adalah set model yang dikembangkan oleh Bruce Joyce dan Marsha Weil dengan
kategorisasi sebagai berikut: 1.) model
information processing; 2.) model personal; 3.) model social; 4.) model
behavioral.
Informastion
Processing adalah sebuah istilah kunci dalam psikologi kognitif yang
akhir-akhir ini semakin mendominasi sebagian besar upaya riset dan pembahasan
psikologi pendidikan. Kata information processing sebenarnya dipinjam dari
peristilahan komputer untuk menjelaskan aktivitas mental ( dalam hal ini mental
siswa) ketika mengoperasikan pengetahuan dan mengolah informasi yang
diekstraksikan dari peristiwa-peistiwa yang ada dilingkungan sekitarnya,
seperti suara atau kata, gerakan benda, gambar dan sebagainya.
Model Peningkatan
Kapasitas Berfikir
Di
antara model-model mengajar yang termasuk kategori informasi processing adalah
Model Peningkatan Kapasitas Berfikir yang diilhami oleh metode klinis ciptan
Jean Piaget (1896 - 1980), seorang ahli psikologi anak yang banyak menekuni
perkembangan kognitifnya. Penerapan Model Peningkatan Kapasitas Berfikir
diarahkan sebagai pengembangan-pengembangan sebagai berikut.
1. Daya
cipta akal siswa
2. Berfikir
Kritis Siswa[2]
3. Penilaian
mandiri siswa/dan juga pengembangan.
4. Sosio-
emosional siswa (perasaan kemasyarakatan) sebagai salah satu fenomena ranah
rasa siswa.
Di
negara-negara maju, model mengajar Piaget
tersebut dirancang untuk siswa sampai usia 16 tahun. Namun, tidak
menutup kemungkinan penggunaan model ini untuk siswa-siswa yang lebih tua, asal
guru pemakaiannya berkualitas lebih baik. Mengapa demikian? Karena, siswa yang
berusia di atas 16 tahun dalam perspektif psikologi kognitif memerlukan.
Situasi
yang menampilkan teka-teki masalah yang mendalam pada pelaksanaan langkah
pertama model;
Guru
yang lebih piawai dalam teknik-teknik probing (penyelidikan atau pemeriksaan)
dan counter sggestion (saran tandingan) pada pelaksanaan selanjutnya.
Langkah-langkah
(syntax)
·
Pertama,
langkah konfrontasi. Pada tahap pertama pproses
mengajar-belajar guru perlu mengkonfrontasikan atau menghadapkan para siswa
pada situasi yang menentang, penuh teka-teki, dan terkadang tak masuk akal
(Dahlan , 1990). Caranya ialah dengan mengajukan masalah yang pelik (tapi
relevan dengan misteri pelajaran) dan masih setara dengan perkembangan ranah
cipta siswa.
Pelemparan
masalah pada umumnya dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan atau pemberian
tugas secara singkat, jelas, menarik minat berfikir dan tidak menimbulkan
jawaban yang hanya berbunyi “ya” atau “tidak”. Sebagai contoh, perhatikanlah
alternatif cara pelemparan masalah pelik mengenai hikmah ibadah shalat yang
dilakukan seorang guru agama SMA, sebagai berikut.
1. Mengapa
ada orang yang rajin shalat, tetapi akhlaknya tercela? (syah, 1987)
2. Diskusikanlah
dengan teman-temanmu, mengapa ada orang yang rajin shalat tetapi akhlaknya
tercela!
Untuk
menjamin pemerataan tugas yang menantang itu, para siswa dibagi dalam
kelompok-kelompok kecil yang maksimal terdiri atas lima orang. Sedangkan
masalah yang dilemparkan kepada kelompok-kelompok ini bisa dibuat sama atau
berbeda, dengan catatan:[3]
Setiap
pertanyaan atau tugas memiliki tingkat kerumitan yang seimbang.
Setiap
pertanyaan atau tugas memiliki relevansi dengan materi pelajaran.
·
kedua,
langkah inquiry. Langkah kedua ini (inquiry) merupakan proses, penggunaan intelek
siswa dalam memperoleh pengetahuan dengan cara menemukan dan mengorganisasikan
konsep-konsep kedalam sebuah tatanan yang menurut siswa tersebut penting
(Barlow 1985). Selama proses inquiry guru perlu memberi peluang kepada para
siswa baik sebagai individu maupun kelompok supaya lebih banyak mengembangkan
kreativitas sendiri dalam memecahkan masalah.
Tugas
guru dalam langkah kedua ini menggali
dan menilai respons para siswa dalam cara probing, umpamanya dengan cara
bertanya untuk meyakinkan benar-salahnya sesuatu yang telah dikemukakan para
siswa. Kemudian, guru juga dapat melakukan counter suggestion dengan menanyakan
alasan-alasan mengapa siswa menjawab begini atau begitu. Semua respons siswa
baik yang sama maupun yang berbeda perlu ditelaah oleh guru secara seimbang,
lalu mereka diberi sarana perbaikan dan penyempurnaan jawaban atau hasil tugas
yang telah mereka laksanakan.
Langkah
inkuiri dalam proses mengajar termasuk
pendekatan yang modern dan dapat menghapus tuduhan bahwa lembaga pendidikan
(sekolah) adalah pencipta kultur “penurut dan pendiam”. Oleh karena itu
pertanyaan-pertanyaan kreatif dan inovatif seperti “mengapa” ?,
“bagaimana kalau....?” yang diajukan sebagai counter suggestion
seyogianya dibiasakan oleh guru dan ditularkan kepada para siswanya.
·
Ketiga,
langkah transfer. Pada tahap terakhir ini diharapkan
kemampuan-kemampuan ranah cipta dan rasa ( sosio-emosional) yang sudah dimiliki
para siswa dapat mempermudah penyelesaian tugas-tugas pembelajaran selanjutnya.
Selain itu, kiat kognitif siswa dalam memecahkan masalah diharapkan dapat
memberi dampak positif, (pisitive
transfer effect) atau dapat digunakan lagi untuk memecahkan masalah-masalah
baru ( Lawson, 1991).
Untuk
memastikan apakah transfer ini terjadi dalam diri siswa, maka gurur dianjurkan
melemparkan masalah baruyang juga musykil dan menantang siswa untuk berfikir.
Jika siswa telah mencoba memechkan masalah baru tersebut,guru perlu
melakukancounter-suggestion lagi dengan meminta argumen-argumen dan menggali
pemikiran yang lebih dalam mengenai masalah tadi
Tujuan
langkah terakhir ini, seperti yang telah di singgung di atas, adalah agar siswa
dapat mentransfer dalam arti mengaplikasikan kemampuan ranh ciptanya untuk
memecahkan masalah-masalah dan menyelesaikan[4] tugas-tugas yang lain dihadapi, baik sekarang
maupun pada masa yang akan datang.[5]
B.
Model Personal (pengembangan Pribadi)
Rumpun
model personal pada umumnya berorientasi pada pengembangan pribadi siswa dengan
lebih banyak perhatikan kehidupan ranah rasa, terutama fungsi emosionalnya.
Bantuan rumpun model personal lebih ditekankan pada pembentukan dan
pengorganisasian realitas kehidupan lingkungan
dan kehidupan yang khas/unik . diharapkan, dengan menggunakan model
proses belajar mengajar dapat menolong siswa dalam mengembangkan sendiri
hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Siswa sebagai pesert didik dapat
juga menyadari dirinya sendiri sebagai seorang “pribadi” yang berkecakapan (capable) cukup untuk berinteraksi dengan
pihak luar sehingga mengahasilkan pola hubungan interpersonal yang kondusif
(mendatangkan hasil/bermnfaat).
Model Nondirektif
Teknik
yang lazim digunakan untuk mengimplementasikan model nondirektif adalah teknik
wawancara (nondirective interview). Dalam wawancara ini siswa dibebaskan
menjawab dan mengekspresikan ide dan perasaan kepada guru pembimbing sehubungan dengan masalah yang yang sedang
dialami. Sebaliknya, guru yang berfungsi sebagai pembimbing sangat dianjurkan
untuk bersikap empatik, dalam arti menunjukkan respons ranah cipta dan rasa
yang penuh pengertian terhadap emosi dan perasaan siswa (reber, 1988).
Langkah-langkh
model nondirektif, menurut Carl Rogers yng pendapatnya dikutip Dahlan (1990),
terdiri atas lima fase atau tahapan kegiatan sebagaimana terurai berikut ini.
·
Petama,
menetukan situasi yang membantu. Tahapan ini
dilakukan pada wawancara awal. Guru pada tahapan ini hendaknya pandai-pandai
menyusun daftar pertanyaan dan pernyataan yang membuka jalan bagi siswa klien
untuk mengekspresikan secara bebas hal-hal yang berkaitan dengan
masalah-masalah yang dihadapi. Lalu guru menawarkan pembahasan masalah lebih
lanjut dan juga prosedur pertemuan berikutnya.
·
Kedua,
mendorong atau memotivasi siswa klien untuk
mengekspresikan segala perasaan yang ada, baik yang bersifat positif maupun
yang bersifat negatif.
·
Ketiga,
mengembangkan insight (tilikan). Dalam tahapan ini
siswa klien diharapkan dapat menampakkan personal insight dalam arti mengerti
dan menyadari sendiri tentang arti, sebab, dan akibat perilakunya pada masa
lalu yang bermasalah itu.
·
Keempat,
memotivasi siswa klien sambil membantu membuat
keputusan tentang jenis masalah dan membuat rencana pemecahan masalah tersebut.
·
Kelima,
memotivai siswa klien untuk mengambil keputusan
mengenai jenis masalah dan tindakan-tindakan positif (dalam arti relevan dan
signifikan). Tindakan-tindakan ini harus dilaksanakan secara berangsur-angsur sesuai dengan
elemen-elemen masalah yang dihadapi.
Perlu dikemukakan pula bahwa
langkah-langkah dalam model nondirektif diatas dapat dilaksnakan dalam sekali
atau beberapa kali pertemuan wawancara dengan siswa klien.[6]
C. Model Sosial (Hubungan Bermasyarakat)
Model sosial adalah model mengajar yang
menitik beratkan pada proses interaksi antarindividu yang terjadi dalam
kelompok individu tersebut. Oleh karenanya, rumpun model ini lazim juga disebut
sebagai interactive model (model yang
bersifat hubungan antar-individu). Salah satu model yang mengutamakan interaksi
antara siswa dalam situasi demokrasi itu ialah model mengajar role playing (bermain peran).
Model
Role Playing (Bermain Peran)
Pada prinsipya, model mengajar bermain
pean merupakan upaya pemecahan masalah khususnya yang bertalian dengan
kehidupan sosial melalui peragaan tindakan.
Langkah-langkah
·
Pertama,
memotivasi kelompok. Dalam merangsang minat siswa
terhadap
Kegiatan
bermain peran, guru perlu menawarkan masalah-masalah yang baik. Sebagai contoh
perhatikanlah uraian seorang guru agama mengenai bahaya minuman keras yang
telah menimbulkan kerusakan antar-remaja termasuk Badu, seorang pelajar SMA
tempat guru itu megajar sekarang. Dikisahkan Bahwa:
Badu
pada mulanya adalah seorang anak yang baik dan rajin beribadah. Dulu ia inggal
bersama ibunya yang telah menjanda di sebuah rumah dekat mesjid setelah ibunya
meninggal, ia diajak pindah ke rumah pamannya di sebuah perkampungan kumuh yang
sangat jauh dari masjid. Anak-anak muda disekitar kampung itu senang
bergerombol di mulut-mulut gang sambil menenggak minuman keras dan
berteriak-teriak. Sayangnya, Badu yang baik itupun terpengaruh lalu bergabung bersama anak-anak brandal
tetangganya. Kini Badu harus meringkuk dalam tahanan polisi karena telah
melukai seseorang ketika dia mabuk dan terlibat dalam aksi tawuran
antarkelompok remaja kampung itu.
Setelah
masalah bahaya minimunan keras yanag mencelakakan Badu tadi diidentifikasi
secara rinci., selanjutnya guru menetapkan peran-peran tertentu yang dapat
dimainkan siswa. Dalam hal ini guru tak perlu terpaku dengan kisah yang telah
ia ceritakan. Artinya, bagian-bagian[7] masalah yang perlu diperankan oleh para siswa
bisa sama atau berbeda dari kisah tragis.
·
Kedua,
memilih pemeran (pemegang peranan/aktor). Pada
tahapan kedua ini, bersama-sama para siswa, guru mendiskusikan gambaran
karakter-karakter yang akan diperankan.
·
Ketiga,
mempersiapakan pengamat. Dalam melangsungkan model
bermain peran dilakukan adanya pengamat yang diambil dari kalangan siswa
sendiri. Pengamat ini sebaiknya terlibat dalam cerita yang dimainkan.
·
Keempat,
mempersiapkan tahapan peranan. Dalam bermain peran
tidak diperlukan adanya dialog-dialog khusus seperti dalam sinetron, sebab apa
yang dibutuhkan para siswa aktor itu adalah dorongan untuk berbicara dan
bertindak secara kreatif dan spontan. Walaupun begitu, garis besar adegan yaang
akan dimainkan perlu disusun secara tertulis.
·
Kelima,
pemeranan. Setelah
segala sesuatu siap, mulailah para aktor memainkan peran masing-masingsecar
spontan sesuai dengan garis-garis besar dan tahapan-tahapan yang telah
ditentukan.
·
Keenam,
diskusi dan evaluasi. Seusai semua peran dimainkan,
diskusi dan evaluasi perlu diadakan. Dalam hal ini guru bersama para aktor dan
pengamat hendaknya melakukan pertukaran pikiran dalam rangka menilai
bagia-bagian peran mana yang belum sempurna dimainkan.
·
Ketujuh,
pengulangan pemeran. Dari diskusi tadi biasanya akan
muncul gagasan baru mengenai
alternatif-alternatif lain pemeranan. Alternatif-alternati ini kemudian
digunakan untuk memainkan lagi topik cerita bermain peran secara lebih baik.
·
Kedelapan,
diskusi dan evaluasi ulang. Tahapan ini dimaksudkan
untuk mengkaji kembali hasil pemeranan ulang pada langkah ketujuh tadi. Diskusi
dan evaluasi pada tahap ini berlangsung seperti diskusi dan evaluasi pada tahap keenam.
·
Kesembilan,
membagi pengalaman dan menarik generalisasi .
tahapan terakhir ini dilaksanakan untuk menarik faedah pokok yang terkandung
dalam bermain peran, yakni membantu para siswa memperoleh pengalaman-pengalamn
baru yang berharga melalui aktivitas
interaksi dengan orang lain.[8]
D. Model Behavioral (Pengembangan
Prilaku)
Rumpun model mengajar pengembangan
prilaku (Behavioral) direkayasa atas
dasar kerangka teori perilaku yang dihubungkan dengan proses belajar dan
mengajar. Aktivitas belajar, menurut teori ini,
harus ditujukan pada timbulnya perilaku baru atau perubahannya perilaku
siswa kearah yang sejalan dengan harapan.
Dalam rumpun model mengajar behavioral
terdapat banyak model mengajar. Salah satu diantaranya yang cukup masyhur ialah
model belajar tuntas (mastery learning)
.
Model
mastery learning (belajar tuntas)
Pengajaran dengan model mastery learning dapat dilaksanakan,
baik secara individual maupun secara berkelompok. Dalam hal penyajian
individual, meskipun relatif lebih
sulit, guru dapat mengaplikasikannya dalam konteks pengajaran kelas dengan
memberi perlakuan-perlakuan khusus terhadap siswa tertentu.
Langkah-langkah
·
Pertama,
langkah orientasi. Pada tahap pertama ini guru
dianjurkan untuk menyusun framework (kerangka
kerja pengajaran). Dalam kerangka pengajaran ini perlu ditetapkan hal-hal
sebagai berikut.
1. Pokok
bahasan materi pelajaran
2. Keterampilan
khusus yang harus dikuasai siswa seusai mempelajari materi pelajaran.
3. Tugas
dan tanggung jawab murid dalam melakukan belajar.
·
Kedua,
langkah penyajian. Pada tahap kedua guru menjelaskan
konsep-konsep yang terdapat dalam pokok bahasan, diselingi dengan peragaan atau
demonstrasi keterampilan yang yang berhubungan dengan materi pelajaran. Untuk
meningkatkan gairah belajar siswa maka guru, menurut Barlow (1985), sangat
dianjurkan menggunakan alat-alat bantu seperti lembar peraga, yang
menggambarkan contoh keterampilan yang sedang diajarkan.
·
Ketiga,
langkah strukturisasi latihan. Pada paragraf ketiga
ini guru memperlihatkan contoh-contoh memperaktikkan keterampilan sesuai dengan
urutan yang telah dijelaskan pada waktu perjanjian materi penggunaan alat-alat
audio-visual (alat bantu dengar –padang)
·
Keempat,
langkah praktik. Pada tahap keempat ini guru
seyogyanya memberipeluang yang cukup luas kepada para siswa untuk
memperaktikkan keterampilan yang telah mereka lihat dan mereka dengar pada
tahap-tahap sebelumnya.
·
Kelima,
langkah praktik bebas. Pada tahap terakhir ini guru
dapat memberi kebiasaan kepada para siswa untuk memperaktikkan sendiri
keteampilan yang telah dikuasai. Praktik keterampilan ini dapat dilakukan para
siswa baik dari kelas maupun dari laboraturium atau dirumah sendiri dan
tempat-tempat lain yang sesui selama mungkin. Namun, agarnya perlu kita
dicatat bahwa tahap terakhir ini baru
dapat diberikan kepada para siswa telah mereka mencapai akurasi (ketepatan)
keterampilan minimal 85 persen.[9]
B.
Metode Mengajar
Metode mengajar ialah cara yang
dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat
berlangsungnya pelajaran. Oleh karena itu peranan metode mengajar sebagai alat
untuk menciptakan proses mengajar dan belajar.[10]
1.)
Metode Ceramah
Metode
Ceramah ialah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan
pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti
secara pasif.[11]
Keuntungannya:
1.
Guru dapat menguasai
seluruh arah kelas
2.
Organisasi kelas adalah
sederhana[12]
Kelemahannya:
1.
Membuat siswa pasif
2.
Mengandung unsur
paksaan kepada siswa
3.
Menghambat daya kritis
siswa (Daradjat, 1985)[13]
Dalil
yang menunjukkan tentang metode ceramah yaitu:
Jabir
bin abdillah Radhiallahuanhu anhuma menceritakan.
Artinya: “Bila sedang berkhutbah, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerah matanya, suaranya keras dan kemarahan
beliau memuncak, seakan-akan beliau
sedang memperingatkan pasukan (dari musuh)”
[HR. Muslim]
2.)
Metode Diskusi
Metode
diskusi ialah metode yang sangat erat hubungannya dengan belajar memecahkan
masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi
kelompok dan resitasi bersama.
Metode
ini diaplikasikan dalam proses
belajar-mengajar untuk:
1.
Mendorong siswa befikir
kritis
2.
Mendorong siswa mengekspresikan
pendapatnya secara bebas
3.
Mendorong siswa
menumbang buah pikirannya untuk memecahkan masalah bersama
4.
Mengambil satu
alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah
bedasarkan pertimbangan yang seksama.
Kelemahan-kelemahannya:
1.
Jalannya diskusi lebih
sering didominasi oleh siswa partisipan yang pandai, sehingga mengurangi
peluang siswa lain untuk memberi kontribusi.
2.
Jalannya diskusi sering
terpengaruh oleh pembicaraan yang menyimpang dari topik pembahasan masalah, sehingga
petukaran pikiran menjadi asal-asalan dan bertele-tele.
3.
Diskusi biasanya lebih
banyak memboroskan waktu, sehingga tidak sejalan dengan prinsip efisiensi.[14]
3.)
Metode Karyawisata
Metode
karya wisata diartikan sebagai suatu strategi belajar mengajar, di mana guru
dan muridnya mengunjungi suatu tempat tertentu yang relevan untuk memperoleh
sejumlah pengalaman empiris.
Disarankan
agar:
a.
Tidak terlalu menyita
waktu, kecuali pada saat libur;
b.
Erat kaitannya dengan
bidang studi yang dipelajari;
c.
Biayanya tidak terlalu
mahal; dan
d.
Persiapan yang memadai[15]
4.)
Metode Demonstrasi
Metode
Demonstrasi adalah metodemengajar dengan cara memperagakan barang , kejadian,
aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun
melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau
materi yang sedang disajikan[16]
3. STRATEGI DAN TAHAPAN
MENGAJAR
A. Strategi Mengajar
Startegi
mengajar adalah tindakan guru melakukan rencana mengajar. Artinya, usaha guru
dalam menggunakan beberapa variabel ( tujuan, bahan, metode dan alat, serta
evaluasi) agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. [17]
1.)
Strategi SPELT (
strategi Program for effective learning /teaching)
Sesuai
dengan namanya, Strategi SPELT tadi sengaja direkayasa untuk memperbaiki dan
meningkatkan keefektivan belajar dan berfikir siswa, terutama yang menduduki
kelas akhir sekolah dasar dan kelas-kelas sekolah menengah. Secara eksplisit
tujuan strategi ini ialah membuat siswa menjadi:
1.)
Penuntut ilmu yang
aktif sebagai pemikir dan pemecah masalah:
2.)
Penuntut ilmu yang
mandiri, memiliki rencana dan strategi sendiri yang efesien dalam mendekati
belajar
3.)
Penuntut ilmu yang
lebih sadar akan kemampuan pengendalian proses berfikirnya sendiri (metacognitive awareness)[18]
B. Tahapan Mengajar
Setiap
proses mmengajar harus melalui 3 tahapan, yaitu:
1.
Tahap prainstruksional,
yaitu persiapan sebelum mengajar dimulai.
2.
Tahap instruksional,
yaitu saat-saat mengajar (penyajian materi).
3.
Tahap evaluasi dan
tindak lanjutan, yaitu penilaian atas hasil belajar siswa setelah mengikuti
pengajaran dan penindaklanjutnya.
Apabila
salah satu tahap mengajar ditinggalkan guru misalnya tahap evaluasi, maka guru
tersebut tidak dapat dipandang telah melakukan perbuatan mengajar dalam arti
yang ideal.[19]
A.
Tahap Prainstruksional
Tahap
Prainstruksional adalah langkah
persiapan yang ditempuh pada saat ia memulai proses belajar mengajar.
Beberapa
kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru atau oleh siswa pada tahan ini:
·
Guru menanyakan
kehadiran siswa, dan mencatat siapa yang tidak hadir.
·
Bertanya kepada siswa,
sampai dimana pembahasan pelajaran sebelumnya.
·
Mengajukan pertanyaan
kepada siswa atau siswa tertentu tentang bahan pelajaran yang sudah diberikan
sebelumnya.
·
Memberikan kesempatan
kepada siswa untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum dikuasainya
dari pengajaran yang telah dilaksanakan sebelumnya.
·
Mengulang kembali bahan
pelajaran yang lalu (bahan pelajaran sebelumnya) secara singkat tapi mencakup
semua aspek bahan yang telah dibahas sebelumnya.[20]
B.
Tahap instruksional
Tahap instruksional adalah tahap pengajaran
atau tahap inti. Yakni tahapan
memberikan bahan pelajaran yang telah disusun guru sebelumnya. Secara umum dapat diidentifikasi beberapa
kegiatan sebagai berikut:
·
Menjelaskan kepada
siswa tujuan pengajaran yang harus dicapai siswa.
·
Menuliskan pokok materi
yang akan dibahas hari itu.
·
Membahas pokok materi
yang telah dituliskan tadi.
·
Pada setiap pokok
materi yang dibahas sebaiknya diberikan contoh-contoh konkret.
·
Penggunaan alat bantu pengajaran
untuk memperjelas pembahasan setiap pokok materi sangat diperlukan.
·
Menyimpulkan hasil
pembahasan dari semua pokok materi. Kesimpulan ini dibuat oleh guru dan
sebaiknya pokok-pokoknya ditulis di papan tulis untuk dicatat siswa.[21]
C.
Tahap evaluasi dan
tindak lanjut
Pada
tahap ini guru melakukan penilaian keberhasilan belajar siswa yang berlngsung
pada tahap intruksioanal. Caranya, ialah dengan mengadakan post test.
Post
test merupakan alat pengukuran prestasi belajar siswa sesudah penyajian materi
pelajaran.[22]
DAFTAR
PUSTAKA
Syah,
Muhibbin.2014. psikologi pendidikan,
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sudjana, Nana.2011. Dasar Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung:
Sinar Baru Algensindo
Danim, Sudarwan. 2010. Media
komunikasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara
Surakhmad, Winarno.
1986. Metodologi Pengajaran Nasional,
Bandung: Jemmars
Ichsan,
muhammad. 2016. Psikologi Pendidikan Dan
Ilmu Mengajar.Banda Aceh: Jurnal Edukasi. Vol. 2, No. 1
[1] Muhibbin Syah, Psikologi
Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014) ,hlm.186
[2] Ibid, hlm. 187
[3] Ibid, hlm. 188
[4] Ibid, hlm. 189
[5] Ibid, hlm. 190
[6] Ibid, hlm 191
[7] Ibid, hlm 192-193
[8] Ibid, hlm. 194-195
[9] Ibid, hlm. 195-197
[10] Nana Sudjana, Dasar-Dasar
Proses Belajar Mengajar, (Bandung:
Sinar Baru Algensindo, 2011), hlm.76
[11] Muhammad ichsan, “Psikologi
Pendidikan Dan Ilmu Mengajar”.Jurnal Edukasi. Vol. 2 No. 1, Januari 2016, 73
[12] Winarno Surakhmad, Metodologi
Pengajaran Nasional, (Bandung: Jemmars, 1986), hlm. 78
[13] Syah, Op.Cit. hlm. 201
[14] Ichsan, Op.Cit. hlm. 74
[15] Sudarwan Danim, Media komunikasi
Pendidikan,(Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm. 38
[16] Syah, Op.Cit. hlm 205
[17] Sudjana, Op.Cit. hlm. 147
[18] Syah, Op.Cit. hlm. 211
[19] Ibid,hlm 213
[20] Sudjana, Op.Cit. 148-149
[21] Ibid, hlm. 149-151
[22] Syah, Op.Cit. 214
Tidak ada komentar:
Posting Komentar